Pages

Senin, 27 Desember 2010

ADA JERAWAT!

Shock banget gue waktu tau ada jerawat di kepala. Rasanya..waow.

Waktu itu gue sedang melakukan aksi yang menyenangkan, garok-garok kepala. Trus gue ngerasa ada tonjolan besar banget gitu di leher deket kepala (yang masih kena rambutnya itu loh). Karena gue kira ada kotoran yang nyangkut di rambut, jadi gue tarik aja tuh benjolan, berharap dia lepas dari kepala gue. Ternyata bukannya lepas malah gue yang teriak kesakitan. Aww. Si benjolan itu bukanlah benjolan biasa.
[gue sampe foto tuh jerawat biar ngeliat langsung kondisi kepala gue..tapi karena suatu hal tidak dapat ditampilkan]

Abis itu gue melakukan investigasi ke temen-temen gue. Gue tanya: “Eh liat deh, liat deh. Di kepala gue ada apa si?” Sebenernya gue degdegan, takutnya si benjolan itu malahan ketombe yang telah bermutasi menjadi gumpalan daging saking terlalu kotornya. Temen-temen gue jawab: “Bisul kali.” Gue shock. Tidaaak…seumur-umur gue menghindari segala cacat penyakit yang berbentuk benjolan. Aaaah. Gue terbengong-bengong lama. Terus ada temen gue yang bijak mencoba menenangkan gue dengan bilang kalo si benjolan adalah sebuah jerawat. Gue tenang. Hahaha.

Dari si benjolan jerawat kepala itulah gue mendapatkan satu pelajaran hidup yang mungkin berguna di hari esok. Kalo pake sabun antijerawat jangan lupa pakein ke kepala juga.

Rabu, 22 Desember 2010

Selamat hari ibu..


Pagi ini saya diserbu cerita manis teman-teman saya tentang bagaimana mereka mengucapkan selamat hari ibu kepada ibundanya.
 Terlintas dalam benak saya sesosok wanita kuat yang tegar mengarungi kehidupan. Dia yang selalu tersenyum ketika melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang manis. Dia yang meluapkan amarah ketika melihat anaknya ada pada jalan yang salah. Dia yang selalu berdoa untuk kesuksesan anaknya. Dia yang selalu memperhatikan ketika anaknya mencoba hal yang baru. Dia yang bagai matahari menyinari kehidupan saya.
Pernah suatu waktu saya ingin memberi hadiah ke ibu saya. Dengan malu-malu, saya bertanya kepada ibu apa hadiah yang beliau inginkan. Jawabannya sederhana: “Untuk apa hadiah, ulangtahun mama udah lewat. Lagian kamu juga belum kerja kan?” Ya, memang sampai saat ini pun saya belum bekerja tapi saya ingin sekali memberi hadiah ke ibu. Waktu itu saya tak menyadari arti yang sebenarnya tersirat dari ucapannya.
Tapi saat ini, ketika semua orang membicarakan ibunya masing-masing, saya mulai kangen pada ibu. Ingin rasanya memberi ibu hadiah kecil dari saya. Saya akan tetap bersikeras memberi hadiah sekalipun beliau menolak.
Kini, ketika sudah tak ada waktu lagi untuk mengatakan kecintaan pada bunda. Ketika kata sudah tak bermakna untuk diucapkan. Ketika rasa sesal tak bisa dibayarkan. Hanya kenangan yang tersisa. Semua sudah terlewat. Masa-masa itu bukan menjadi bagian dari hidup saya lagi.
Andai waktu bisa terulang, saat ini saya pasti akan menyatakan: “Selamat hari ibu, mama.”

Jumat, 17 Desember 2010

haaaa (~o~)p

saya mencoba membuat.
menyempatkan waktu untuk menulis.
agar tulisan saya semakin baik :)