Pages

Minggu, 09 September 2012

Kangen

Blog ini sempet terlupakan sama gue. Mungkin bukan terlupakan, tapi dilupakan. Yah, memang ada unsur kesengajaan gak mau nulis di sini lagi. Kenapa? Karena isi di blog ini terlalu jujur menurut gue. Jujur dalam artian bener-bener nulis pakai emosi saat itu.
Ego gue pingin tulisan gue dibaca sama orang lain (apalagi sekarang gue bener-bener gak pernah nulis serius lagi), makanya gue tinggalin dan bikin yang baru yang 'layak' dan bisa dipublikasikan ke orang-orang. Tapi sekarang gue kangen. Kangen sama tulisan naif gue yang bener-bener gue ketik dan tulis saat emosi gue lagi meluap, entah lagi seneng-senengnya, sedih sampai nangis, ataupun marah. Karena itu, gue kembali nulis di sini.
Seenggaknya gue bisa ngeluapin semua perasaan gue tanpa harus bertemu muka sama orang lain. Gak peduli  bakal dibaca atau nggak, bahkan gue mengharap gak dibaca.

Kamis, 06 September 2012

Gue Agak Ngerti

Sekarang gue agak ngerti gimana rasanya ditinggal.
Dateng ke kampus niat buat kuliah, ternyata malah gak ada kuliah. Rumah jauh, gak mungkin langsung pulang gitu aja. Di depan kampus ketemu teman-teman yang langsung mau pulang ke kosan masing-masing, jadilah gue ke ruang kelas aja. Niatnya mau ngerjain tugas kelompok.
Nyampe di area perkuliahan, ternyata kosong melompong. Gue sendirian, ngerasa gak ada temen, dan gak ada yang nyamperin. Akhirnya gue asal aja nemplok di gundukan temen-temen yang pada ngerumpi. Waktu itu, gue ngerasa sendiri.
Sendiri itu aneh rasanya. Kayak berbeda sama orang lain dan gak nyambung, tapi maksain. Karena males ngobrol, gue diem aja.
Rasanya? Kayak dibuang gitu aja. Gue cuman bisa ngelihatin dari jauh, minta diajak, tapi males nyamper duluan. Yah, gak tahu kenapa, sekarang gue udah jadi pemalu beneran, sungkan, dan gak enakan. Ujung-ujungnya jadi mikir yang negatif -.-
Mungkin ini karma.. huwoooh

Jumat, 09 Desember 2011

Terimakasih, dek!


Hari terakhir itu kadang bikin sedih, tapi ternyata bisa juga jadi momen mengejutkan.
Anak-anak itu membawa hadiah untuk saya (kami).
Senang rasanya menjadi salah satu perhatian mereka.
Ini adalah kumpulan ekspresi kata yang saya keluarkan melihat benda-benda itu:

Cokelat= ‘asyiiik!’
Benda kotak (yang saya kira cokelat Van Houten kesukaan saya)= ‘asiiik asiiik asiiik.. dapet cokelat!’ (pas dibuka) ‘yaaaaah, gue ditipu sama bentuk luarnya, ternyata notes.. (sedih)’ (trus buka notesnya, ada catatan kecil dari praktikan) ‘aaah… jadi seneng’
Bungkus kado doraemon= ‘ini apa, ya? Jangan-jangan sarung tangan plastic untuk lab.hehe :p’ (dibuka ‘aaah, bulu-bulu kunciran ya?? Eh, bukan. Ternyata tempat dari bulu-bulu.’
Kertas bentuk lope, bentuk baju, bentuk yang aneh-aneh= ‘ini kan isinya tulisan kesan, tapi gimana dibukanya, ya?? Kan sayang dihancurin nanti jadi berantakan..’ (jadi sampai sekarang gak dibuka)
Kipas= ‘eh tempatnya lucu deh’
Kipas 2= ‘ih yang ini berkibar-kibar kipasnya..’
Kipas 3= ‘lucuuuu.. tapi itu buat kak nita.. :( ’
Bungkusan kertas kado tapi dalemnya keras= ‘wooooaaa.. ini apaan (isinya bingkai foto dari kertas duplex) yaampun, kapan dia ngambil foto gue?? Mana fotonya gue lagi autis..’
Kertas yang ada gambar kartun saya= ‘aaaaah.. lucu ’
Bunga= ‘seneng dapet bunga sebelum wisuda. Hehe :p. Merah itu indah yah.’


Kesenangan saya hari ini susah dilumerkan. Terimakasih ya adek, maaf, saya tak pernah mau ngerepotin kalian dengan meminta kalian membawa barang yang -saya rasa- tidak diperlukan untuk pembelajaran. Saya sangat senang dan menghargai kalian yang memberi kesan kalian –walau kalian merasa gaenak ngasih kertas kesan-. Tahukah kalian, yang saya lihat, yang saya baca berulang-ulang, yang saya kenang, yang saya suka adalah tulisan kalian tentang saya.
Terimakasih.

Rabu, 29 Juni 2011

Yang Bakal Dikangenin (I)


Tangan gue beku. Kedinginan. Hari ini hujan turun pagi, siang, sore sampai malem. Dua hari dari tanggal 27-28 Juni 2011 gue dan temen-temen yang lain menjalankan amanah sebagai panitia KATA, yakni membuat stand PMK. Kami jadwalkan jam 06.30 sudah harus berkumpul di stand, nomer 13. Pagi hujan rintik menghalangi langkah kami, tapi tak menggoyahkan langkah kami menuju stand. Divisi PERKAP yang ‘jantan’ bekerja demikian kerasnya menyesuaikan jadwal agar ketika panitia berkumpul jam 06.30, semua peralatan sudah tersedia. Divisi PDD yang ‘gaul’ itu ribet dengan segala dekorasinya. Divisi DANUS yang ‘ih waow keyeen’ sudah bergegas dari jam 06.00 menyiapkan segala perlengkapan dana usaha dan sarapan panitia yang lain. Divisi KONSUMSI yang ‘selalu ingin yang terbaik’ menenangkan hati panitia dengan melaksanakan apa yang telah dievaluasi sehari sebelumny. Divisi DOA yang ‘holy holy hota hae’ selalu mengingatkan pelayanan. Divisi ACARA yang mengatur segalanya tentang stand. Tak lupa dengan PANTI yang gajelas dan ngegaul saat stand berdiri. Bersyukur stand kami bisa berdiri dengan indahnya dan acara ‘menjaga stand’ cukup lancar.

Tak dinyana, hujan turun lagi saat siang hari, tak terlalu besar tapi cukup merepotkan. Hujan yang turun selama setengah jam tak menyurutkan semangat kami untuk menyambut adik-adik angkatan 48. Apa yang kami harapkan kadang tak sesuai dengan apa yang Tuhan tentukan. Hujan turun lagi sore harinya, bahkan lebih deras dibanding siang hari. Dingin. Jujur, gue takut. Takut teman-teman yang lain jadi sakit dibuat hujan. Semoga tidak terjadi. Masih ada acara yang akan berlangsung sesuai agenda kami, dan kami harus bertahan. KPM lima hari lagi, kawan. SEMANGAAAT!
“Anggap saja Tuhan itu seperti air hujan. Ia melimpahi kita dan ada di sekeliling kita tanpa batas.”

Rabu, 22 Juni 2011

She says.. [PART 1]


Gue iseng-iseng buka buku pelajaran adik gue. Hal ini didasari sama sifat gue sebagai kakak yang baik dan perhatian kepada adiknya (>.<)") nyeheeeee.. dan kebacalah cerita ini sama gue:  
"....... Kemudian saya pun masuk ke Sekolah Dasar. Sama seperti kedua kakak saya, saya dimasukkan ke SD Budi Mulia. Hari pertama masuk sekolah, Ayah mengantar saya. Saya pun masuk kelas untuk pertama kalinya. Hari-hari awal saya di SD sangat menyenangkan. Kakak saya yang saat itu kelas 5 SD dan 4 SD selalu mengajak saya bermain bersama dengan teman-temannya. Saya pun sering diajak bermain ke kelas mereka di lantai dua dan tiga."
Senyum-senyum gue ngebacanya, terharu sangat loooh. Hmm.. emang dulu gue sering ngajak adik gue ke kelas yah? [berpikir] Kayaknya sih enggak, atau gue yang lupa yah? hehe :) Tapi untunglah adik gue seneng bergaul sama gue~~ 
"Kakak saya memang sering membantu saya, tetapi terkadang bantuannya malah membawa hal buruk untuk saya. Saat saya kelas 1 SD ada pelajaran tulis sambung, kemudian guru saya memberikan PR tulis sambung. Sesampainya di rumah, saya mengerjakan tugas tersebut. Tetapi, kakak saya menawarkan bantuan untuk mengerjakan PR saya. Saya tentu saja menerima bantuannya. Ketika tiba pelajaran tulis sambung, saya mengumpulkan PR saya. Kemudian guru saya memanggil saya dan menanyakan apakah PR tersebut saya kerjakan sendiri. Tentu saja saya mengatakan PR tersebut saya buat sendiri. Lalu, guru saya meminta saya menulis. Saya pun menulis sebagus mungkin, karena tulisan kakak saya yang duduk di kelas 4 SD sangat bagus. Setelah menulis, guru saya mempersilahkan saya duduk kembali. Sepertinya ia tahu bahwa saya telah berbohong saat itu."

Okay, yang berperan jadi kakak yang jahat di sana adalah GUE. Sebenarnya enggak niat jahat sih, kan bermaksud baik 'membantu adik mengerjakan tugas'. Kalau kalian melihat tulisan adik gue waktu SD yang sungguh amazing itu, kalian pasti mengerti kenapa gue membantunya. Lagipula, dulu kan gue masih SD juga, jadi masih polos, lugu dan tak memikirkan masa depan, bahkan enggak mikir kalau adik gue bakal dihukum. Di pikiran gue, justru si ibu guru bakal memuji PR tulis sambung adik gue (karena jelas tulisan gue bagus haha..) Kalau waktu itu adik gue cerita masalah ini ke gue, pasti gue semangati adik gue.
"Woy, ibu guru enggak ngasih komentar soalnya dia percaya keajaiban mungkin, dalam semalam tulisan pita kusut bisa jadi bunga indah" haha.
FYI: sampai sekarang tulisan adik gue (yang udah mau naik kelas 3 SMA) masih jelek.

Selasa, 31 Mei 2011

Tuhan ada


Ketika kamu ingin mengetahui dimana ada Tuhan, lihatlah sekeliling.

Udara, sesuatu yang selalu kita hirup. Kita takkan bisa menolak atau membuangnya dari kehidupan. Kenapa tak kau umpamakan saja Tuhan dengan udara? Selalu berada di sekelilingmu.

Tanah, tempat kita menginjakkan kaki. Tempat siapapun tinggal dan berlari diatasnya. Kenapa tak kau umpamakan saja Tuhan dengan tanah? Tempat tinggalmu.

Air, sesuatu yang selalu kita minta, bahkan bagian dari tubuh kita. Tanpa air, manusia takkan bisa hidup lama. Kenapa tak kau umpamakan saja Tuhan dengan air? Selalu menyegarkan.

Pohon, bunga, buah, rumput, semua yang selalu berada di sekitar kita, yang kita tahu mereka ada di sana walau hanya diam tak bersuara. Kenapa tak kau umpamakan saja Tuhan dengan mereka? Selalu ada.

Aku, manusia hidup. Bersedia ada ketika kamu butuhkan. Kenapa tak kau anggap saja aku diutusnya untuk menemanimu? Selalu dan akan terus menyayangimu.

Tenang, Tuhan akan dan selalu ada di sekitar kita.

Senin, 04 April 2011

Dia


Dia, manusia renta bersama pendampingnya cinta pada budaya.
Dia lelaki kuat, kini diam tak bertenaga.
Dia tak pernah bosan membanggakan cucunya.
Dia yang selalu tersenyum ketika melihat kedatangan keluarga.
Dia, tak memikirkan diri, malah memikirkan kami.
Dia, pergi tanpa menunggu.
Dia: yang disayang.