Pages

Jumat, 09 Desember 2011

Terimakasih, dek!


Hari terakhir itu kadang bikin sedih, tapi ternyata bisa juga jadi momen mengejutkan.
Anak-anak itu membawa hadiah untuk saya (kami).
Senang rasanya menjadi salah satu perhatian mereka.
Ini adalah kumpulan ekspresi kata yang saya keluarkan melihat benda-benda itu:

Cokelat= ‘asyiiik!’
Benda kotak (yang saya kira cokelat Van Houten kesukaan saya)= ‘asiiik asiiik asiiik.. dapet cokelat!’ (pas dibuka) ‘yaaaaah, gue ditipu sama bentuk luarnya, ternyata notes.. (sedih)’ (trus buka notesnya, ada catatan kecil dari praktikan) ‘aaah… jadi seneng’
Bungkus kado doraemon= ‘ini apa, ya? Jangan-jangan sarung tangan plastic untuk lab.hehe :p’ (dibuka ‘aaah, bulu-bulu kunciran ya?? Eh, bukan. Ternyata tempat dari bulu-bulu.’
Kertas bentuk lope, bentuk baju, bentuk yang aneh-aneh= ‘ini kan isinya tulisan kesan, tapi gimana dibukanya, ya?? Kan sayang dihancurin nanti jadi berantakan..’ (jadi sampai sekarang gak dibuka)
Kipas= ‘eh tempatnya lucu deh’
Kipas 2= ‘ih yang ini berkibar-kibar kipasnya..’
Kipas 3= ‘lucuuuu.. tapi itu buat kak nita.. :( ’
Bungkusan kertas kado tapi dalemnya keras= ‘wooooaaa.. ini apaan (isinya bingkai foto dari kertas duplex) yaampun, kapan dia ngambil foto gue?? Mana fotonya gue lagi autis..’
Kertas yang ada gambar kartun saya= ‘aaaaah.. lucu ’
Bunga= ‘seneng dapet bunga sebelum wisuda. Hehe :p. Merah itu indah yah.’


Kesenangan saya hari ini susah dilumerkan. Terimakasih ya adek, maaf, saya tak pernah mau ngerepotin kalian dengan meminta kalian membawa barang yang -saya rasa- tidak diperlukan untuk pembelajaran. Saya sangat senang dan menghargai kalian yang memberi kesan kalian –walau kalian merasa gaenak ngasih kertas kesan-. Tahukah kalian, yang saya lihat, yang saya baca berulang-ulang, yang saya kenang, yang saya suka adalah tulisan kalian tentang saya.
Terimakasih.

Rabu, 29 Juni 2011

Yang Bakal Dikangenin (I)


Tangan gue beku. Kedinginan. Hari ini hujan turun pagi, siang, sore sampai malem. Dua hari dari tanggal 27-28 Juni 2011 gue dan temen-temen yang lain menjalankan amanah sebagai panitia KATA, yakni membuat stand PMK. Kami jadwalkan jam 06.30 sudah harus berkumpul di stand, nomer 13. Pagi hujan rintik menghalangi langkah kami, tapi tak menggoyahkan langkah kami menuju stand. Divisi PERKAP yang ‘jantan’ bekerja demikian kerasnya menyesuaikan jadwal agar ketika panitia berkumpul jam 06.30, semua peralatan sudah tersedia. Divisi PDD yang ‘gaul’ itu ribet dengan segala dekorasinya. Divisi DANUS yang ‘ih waow keyeen’ sudah bergegas dari jam 06.00 menyiapkan segala perlengkapan dana usaha dan sarapan panitia yang lain. Divisi KONSUMSI yang ‘selalu ingin yang terbaik’ menenangkan hati panitia dengan melaksanakan apa yang telah dievaluasi sehari sebelumny. Divisi DOA yang ‘holy holy hota hae’ selalu mengingatkan pelayanan. Divisi ACARA yang mengatur segalanya tentang stand. Tak lupa dengan PANTI yang gajelas dan ngegaul saat stand berdiri. Bersyukur stand kami bisa berdiri dengan indahnya dan acara ‘menjaga stand’ cukup lancar.

Tak dinyana, hujan turun lagi saat siang hari, tak terlalu besar tapi cukup merepotkan. Hujan yang turun selama setengah jam tak menyurutkan semangat kami untuk menyambut adik-adik angkatan 48. Apa yang kami harapkan kadang tak sesuai dengan apa yang Tuhan tentukan. Hujan turun lagi sore harinya, bahkan lebih deras dibanding siang hari. Dingin. Jujur, gue takut. Takut teman-teman yang lain jadi sakit dibuat hujan. Semoga tidak terjadi. Masih ada acara yang akan berlangsung sesuai agenda kami, dan kami harus bertahan. KPM lima hari lagi, kawan. SEMANGAAAT!
“Anggap saja Tuhan itu seperti air hujan. Ia melimpahi kita dan ada di sekeliling kita tanpa batas.”

Rabu, 22 Juni 2011

She says.. [PART 1]


Gue iseng-iseng buka buku pelajaran adik gue. Hal ini didasari sama sifat gue sebagai kakak yang baik dan perhatian kepada adiknya (>.<)") nyeheeeee.. dan kebacalah cerita ini sama gue:  
"....... Kemudian saya pun masuk ke Sekolah Dasar. Sama seperti kedua kakak saya, saya dimasukkan ke SD Budi Mulia. Hari pertama masuk sekolah, Ayah mengantar saya. Saya pun masuk kelas untuk pertama kalinya. Hari-hari awal saya di SD sangat menyenangkan. Kakak saya yang saat itu kelas 5 SD dan 4 SD selalu mengajak saya bermain bersama dengan teman-temannya. Saya pun sering diajak bermain ke kelas mereka di lantai dua dan tiga."
Senyum-senyum gue ngebacanya, terharu sangat loooh. Hmm.. emang dulu gue sering ngajak adik gue ke kelas yah? [berpikir] Kayaknya sih enggak, atau gue yang lupa yah? hehe :) Tapi untunglah adik gue seneng bergaul sama gue~~ 
"Kakak saya memang sering membantu saya, tetapi terkadang bantuannya malah membawa hal buruk untuk saya. Saat saya kelas 1 SD ada pelajaran tulis sambung, kemudian guru saya memberikan PR tulis sambung. Sesampainya di rumah, saya mengerjakan tugas tersebut. Tetapi, kakak saya menawarkan bantuan untuk mengerjakan PR saya. Saya tentu saja menerima bantuannya. Ketika tiba pelajaran tulis sambung, saya mengumpulkan PR saya. Kemudian guru saya memanggil saya dan menanyakan apakah PR tersebut saya kerjakan sendiri. Tentu saja saya mengatakan PR tersebut saya buat sendiri. Lalu, guru saya meminta saya menulis. Saya pun menulis sebagus mungkin, karena tulisan kakak saya yang duduk di kelas 4 SD sangat bagus. Setelah menulis, guru saya mempersilahkan saya duduk kembali. Sepertinya ia tahu bahwa saya telah berbohong saat itu."

Okay, yang berperan jadi kakak yang jahat di sana adalah GUE. Sebenarnya enggak niat jahat sih, kan bermaksud baik 'membantu adik mengerjakan tugas'. Kalau kalian melihat tulisan adik gue waktu SD yang sungguh amazing itu, kalian pasti mengerti kenapa gue membantunya. Lagipula, dulu kan gue masih SD juga, jadi masih polos, lugu dan tak memikirkan masa depan, bahkan enggak mikir kalau adik gue bakal dihukum. Di pikiran gue, justru si ibu guru bakal memuji PR tulis sambung adik gue (karena jelas tulisan gue bagus haha..) Kalau waktu itu adik gue cerita masalah ini ke gue, pasti gue semangati adik gue.
"Woy, ibu guru enggak ngasih komentar soalnya dia percaya keajaiban mungkin, dalam semalam tulisan pita kusut bisa jadi bunga indah" haha.
FYI: sampai sekarang tulisan adik gue (yang udah mau naik kelas 3 SMA) masih jelek.

Selasa, 31 Mei 2011

Tuhan ada


Ketika kamu ingin mengetahui dimana ada Tuhan, lihatlah sekeliling.

Udara, sesuatu yang selalu kita hirup. Kita takkan bisa menolak atau membuangnya dari kehidupan. Kenapa tak kau umpamakan saja Tuhan dengan udara? Selalu berada di sekelilingmu.

Tanah, tempat kita menginjakkan kaki. Tempat siapapun tinggal dan berlari diatasnya. Kenapa tak kau umpamakan saja Tuhan dengan tanah? Tempat tinggalmu.

Air, sesuatu yang selalu kita minta, bahkan bagian dari tubuh kita. Tanpa air, manusia takkan bisa hidup lama. Kenapa tak kau umpamakan saja Tuhan dengan air? Selalu menyegarkan.

Pohon, bunga, buah, rumput, semua yang selalu berada di sekitar kita, yang kita tahu mereka ada di sana walau hanya diam tak bersuara. Kenapa tak kau umpamakan saja Tuhan dengan mereka? Selalu ada.

Aku, manusia hidup. Bersedia ada ketika kamu butuhkan. Kenapa tak kau anggap saja aku diutusnya untuk menemanimu? Selalu dan akan terus menyayangimu.

Tenang, Tuhan akan dan selalu ada di sekitar kita.

Senin, 04 April 2011

Dia


Dia, manusia renta bersama pendampingnya cinta pada budaya.
Dia lelaki kuat, kini diam tak bertenaga.
Dia tak pernah bosan membanggakan cucunya.
Dia yang selalu tersenyum ketika melihat kedatangan keluarga.
Dia, tak memikirkan diri, malah memikirkan kami.
Dia, pergi tanpa menunggu.
Dia: yang disayang.


Minggu, 03 April 2011

DONGENG: Kisah Si Terbuka dan Si Tertutup


Ada dua orang dengan perilaku bertolak belakang hidup dalam satu komunitas yang sama. Sebut saja Si Terbuka dan Si Tertutup.
Si Terbuka adalah seorang yang aktif. Ia sering melontarkan candaan yang khas, unik dan spesifik. Ia hanya bisa mengkritik. Ia melakukan apa yang dikiranya benar, tanpa berpikir matang, bertindak sembrono, evaluasi dengan hati menyesal.
Si Tertutup adalah seorang yang matang. Dia membagi pekerjaannya dengan porsi yang seimbang. Dia melakukan apa yang dirasanya benar, berpikir dengan logika, bertindak dengan rasional, evaluasi dengan masuk akal. Dia terlihat tegas, enggan terlihat bodoh. Tenang adalah pilihan mati baginya.
Si Terbuka dan Si Tertutup memiliki teman masing-masing. Tak ada kesamaan, kecuali satu: berada dalam komunitas yang sama. Si Terbuka berteman dengan Si Manja, Si KerasKepala, Si SuaraEmas, Si Pemalu, Si Ketua, Si Ketawa, Si Lebai, Si Baik, Si Mesum, Si Komitmen, Si Sipit, dan Si Doa. Si Tertutup juga berteman dengan mereka, tapi Si Terbuka merasa belum menjadi teman Si Tertutup. Mendengar cerita Si Manja yang ternyata takut saat berdekatan dengan Si Tertutup, Si Terbuka penasaran dan berusaha membuat Si Tertutup ikut larut dalam komunitas itu.
Si Terbuka memulai aksinya mendekatkan diri dengan Si Tertutup. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Hanya basa-basi tak bermakna yang malah terlontar dari bibirnya. Hasilnya? Hanya jawaban tak berniat yang keluar dari Si Tertutup. Si Terbuka menganggap hal itu normal dilakukan oleh Si Tertutup. Tak masalah.
Di kesempatan selanjutnya, Si Terbuka kembali mencoba akrab dengan Si Tertutup. Terlalu berlebihan, mungkin, sampai-sampai Si Tertutup mulai menganggap setiap gerakan Si Terbuka adalah lelucon, hanya untuk cari perhatian saja. Si Tertutup makin cuek, masa bodoh dengan setiap panggilan dan pendapat Si Terbuka. Baginya Si Terbuka adalah orang yang selalu becanda. Hidup Si Terbuka adalah candaan, gerakannya adalah guyonan, kata-katanya hanyalah permainan. Si Terbuka mulai merasa teracuhkan.
Kesempatan terakhir semakin membuka mata Si Terbuka. Si Tertutup dengan jelas mengekspresikan ketidaksukaannya pada tingkah Si Terbuka. Dia berang, marah, muak dengan setiap perkataan Si Terbuka. Si Terbuka menjadi semakin sungkan untuk mendekati Si Tertutup. Ia merasa rendah diri, tak pantas, dan tak sepadan menjadi teman Si Tertutup. Padahal niat awalnya hanya untuk mendekatkan teman komunitasnya agar menjadi satu. Okey, tak mengapa.
Kini Si Terbuka sudah menyerah berteman dengan Si Tertutup. “Maaf, teman, aku sudah lelah ‘mencoba’ menjadi temanmu”. Layakkah ia menyatakannya?

Senin, 28 Maret 2011

Happy birthday beyyyyy

Gue baru tau ternyata begini rasanya dapet first cake. Bukan first cake karena formalitas biasa, bukan pula karena udah dipersiapin. Rasanya.. kayak spesial, mungkin?
Gue turut bahagia untuk semua yang terjadi di hari Minggu kemaren.
Gue bahagia untuk temen gue yang sekarang udah dewasa dengan umurnya yang udah KEPALA DUA.
Gue bahagia dengan kebahagiaan di hari spesialnya.
Gue ikut merasa seneng ketika dia merasa puas bisa mengisi konser dan akhirnya masuk ke organisasi Agria Swara [yang menurut gue: semua angkatan baru yang ikut konser pasti masuk laaah]. Organisasi yang dari setahun lalu ingin dia ikuti.
Gue mencoba mengerti jawaban yang dia berikan untuk si kaka lelaki itu. [yang menimbulkan kontroversi berlebihan]
Hey, sesuatu yang gue rasain bukan sekedar empati saja. 
Gue turut berbahagia. 
Kamu sendiri? Bahagiakah kamu? Sudah bersyukurkah dengan umurmu yang sudah 20 tahun?
God bless :)

-amazing bangets muka lo. haha-


Minggu, 06 Maret 2011

Sang Otak yang Miring

Sekadar untuk melakukan ajakan dosen gue buat coba menyeimbangkan otak kiri dan kanan, gue belajar nulis pake tangan kiri.
Ternyata: SUSAH banget.
Terlalu capek nulis pake tangan kiri, gue buka si lappy mencoba refreshing sebentar. Eh, gue liat program windows journal. Nah kan ini kayaknya mirip-mirip sama percobaan gue buat menyeimbangkan otak gue. Bedanya kalo pake kertas gue coba tulis pake tangn kiri. Nah di windows journal ini karena masih coba-coba, gue tetep pake tangan kanan doooong.
Ini hasilnya:
Ternyata walaupun pake tangan kanan tapi kalo medianya beda susah juga. Tapi ini mungkin masalah tulisan juga kali ya. Kalo tulisan udah jelek mah ya jelek ajaaa :)

Selasa, 22 Februari 2011

REKTOR IPB PUBLISH “E.SAKAZAKI”


“Pandanglah dan jelaskan dengan kasih sayang, mungkin “mereka” belum mengetahui dan memahami. Bangsa ini memerlukan edukasi moral dan etika yang kini makin langka.....”, Rektor IPB dalam Lokakarya Kemahasiswaan.
IPB, Minggu (20/02) – Akhir akhir ini IPB dihujat oleh beberapa kalangan publik yang intinya pemaksaan  publikasi atas lima merk dagang susu kontaminan bakteri E.sakazaki. Kegeraman publik diekspresikan dengan plesetan singkatan IPB, Insitut Pecundang Bogor, Institut Pengecut Bogor, dan plesetan negatif lainnya. Jika ditelusuri susu formula pada bayi sudah dipastikan aman untuk dikonsumsi. Hal ini seiring dengan penelitian BPOM pada tahun 2008 yang menguji sebanyak 96 sampel susu formula dan dinyatakan semuanya NEGATIF. Masih perlukah pemaparan 5 merk dagang tersebut, sedangkan sudah jelas jelas seluruh susu formula yang berdar di pasaran bebas dari kontaminan E.sakazaki.
Pada Lokakarya Kemahasiswaan, Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, Msc memaparkan penjelasan terhadap penelitian Dr. Sri Estuningsih selaku ahli Mikrobiologi Kedokteran Hewan yang telah memberikan dampak hujatan publik kepada IPB. Pada beberapa kalangan publik, ada yang menganggap remeh penelitian beliau disebabkan background profesinya sebagai dokter hewan. Penelitian ini juga dianggap belum mendapat ijin oleh Kementrian Kesehatan.

Dosen FKH yang akrab di panggil Dr.Estu ini melakukan penelitian berdasarkan Dana Hibah Bersaing. Hal ini dapat dijadikan pondasi bahwa penelitian Dr.Estu adalah penelitian murni resmi. Topik penelitian yang diajukan yaitu mengisolasi bakteri E.sakazaki. Sebenarnya bakteri E.sakazaki sudah teridentifikasi sejak tahun 1958 namun belum dapat dipastikan keganasannya. Bakteri ini mudah berkembang pada media yang mengandung protein tinggi salah satunya pada susu. Pada perjalanan penelitiannya tahun 2003/2006 beliau mengambil sampel dari susu formula. Naluri jiwa penelitiannya memicu  Dr. Estu melakukan penelitian lebih terhadap bakteri ini, sampai dilakukan di Jerman karena tidak adanya fasilitas di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, diketahui 5 dari 22 produk susu yang diteliti ternyata mengandung kontaminan bakteri E.sakazaki. Bakteri tersebut kemudian diujicobakan pada seekor mencit dalam dosis yang cukup tinggi, ternyata bakteri ini menyerang jaringan otak. Hal ini tentu berbeda dengan dosis yang dikonsumsi manusia karena bayi manusia tidak sama dengan bayi tikus.

Dr. Estu sigap mengambil tindakan dengan cara mem-publish kontaminan bakteri ini pada berbagai seminar baik didalam maupun diluar negeri. BPOM hingga tahun 2008 tidak dapat melakukan tindakan apapun terkait dengan bakteri ini, sebab belum terdapat peraturan terkait dengan bakteri kontaminan ini. Hingga FAO pada seminar Internasional tahun 2008 mengundang beberapa ahli dari penjuru dunia, Dr.Estu sebagai perwakilan dari Asia. Dalam seminar tersebut FAO memaparkan standar keamanan internasional susu harus bebas dari kontaminan E.sakazaki. Dr. Estu dan berbagai pihak yang berwenang mewanti wanti produsen susu agar memperbaiki kualitas susu. BPOM melakukan pengujian pada 96 susu dan dinyatakan kesemuanya NEGATIF.

Pempublishan ini acap kali memberikan dampak negatif pada Dr. Estu pada khususnya dan Institut Pertanian Bogor pada umunya. Dunia akademisi sedang diuji baik etika maupun profesionalitasnya. Jika IPB mempublish 5 merk dagang susu formula, selain dapat merugikan produsen tersebut mungkin ini adalah pertama kalinya penelitian yang dipublish di dunia internasional. Hal tersebut sudah tercantum dalam kode etik peneliti. Banyak masyarkat indonesia yang hanya memilki pengetahuan saja namun tidak memilki Ilmu Pengetahuan. Terlalu murah IPB untuk dibeli oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab atas kepentingan politik. Perspektif yang telah tercampur aduk antara politik dan ilmiah diharapkan tidak menciutkan jiwa peneliti kritis untuk berkiprah dalam kemajuan dunia. 

From: Syafa CSS mora, Koran Kampus IPB.

Minggu, 20 Februari 2011

Yang Terkenang


You will never understand what pain really is until you have lost it.

2 tahun sudah berlalu. Ya, sudah banyak tangis yang terbuang hanya untuk memikirkan anda. Segala jerit, harapan, doa, dan tangis yang saya lakukan untuk anda tiada guna lagi.
Kadang teringat saat bersama dahulu. Apakah anda benar pernah ada di dunia ini? Apakah benar anda pernah memeluk saya? Cepatnya waktu berputar membuat saya tidak bisa membedakan kenyataan dan mimpi. Saat-saat bersama anda bagaikan mimpi. Bahkan saya harus mengumpulkan banyak foto anda agar saya yakin anda pernah hidup bersama saya. Salahkah saya memikirkannya? 
Ketika orang menanyakan sosok anda, bagaimanakah saya harus menjawabnya? Haruskah dengan nada bersedih? Atau bolehkah saya menyatakan dengan ekspresi riang? Tahukah anda, bahwa hati saya selalu sakit setiap orang menanyakan sosok anda. Bibir saya selalu gemetar tiap menjawab pertanyaan yang dilontarkan orang tentang anda. Salahkah saya bersikap demikian?
Saat saya hanya sendiri, saya terus memikirkan anda. Apakah anda juga memikirkan saya sekarang? Saya selalu berpikir apakah saat ini anda bahagia di sana? Bagaimana dengan raga anda di bumi, amankah? Bisakah saya merasakan peluk anda lagi di saat saya gundah? Mungkinkah saya mengunjungi anda, bahkan untuk sekedar mampir ke peristirahatan anda? Salahkah saya melakukannya?
Waktu terus berjalan, takkan kembali. Rasa ini mungkin bertahan beberapa jam, beberapa hari, beberapa minggu, atau mungkin akan terus berlanjut hingga bertahun-tahun. Salahkah saya mengingat anda? 
Dapatkah saya terlepas dari kungkungan rasa kehilangan ini?
Saya masih membutuhkan anda sebagai pribadi yang utuh, bukan hanya sekedar kenangan.

Senin, 03 Januari 2011

Saya sedih

Saya sedih.

Saya sedih ketika melihat foto-foto dia yang terlihat sangat menikmati waktu  dengan teman-temannya. Saya sedih ketika menyadari tidak memiliki teman seperti teman-teman dia, yang selalu ada saat dia membutuhkan. Saya sedih karena tidak memiliki teman sebanyak teman-teman dia, yang bergantian menemani saat dia susah. Akhirnya saya malah menyudutkan diri saya saat ini.

Saya sedih.

Saya sedih karena dia tidak menganggap saya temannya. Dia yang tidak pernah menceritakan permasalahannya pada saya. Dia yang selalu menutupi segalanya dari saya. Hingga saat ini saya sering berprasangka buruk padanya.

Saya sedih.

Saya sedih karena tidak ada dalam daftar teman ceritanya. Saya sedih karena selalu dinomorduakan oleh dia. Dia yang selalu mendahulukan orang lain dibanding saya di setiap kegiatannya. Dia yang tak pernah mengajak saya jalan hanya untuk bersenang-senang.

Saya sedih.

Saya sedih saat saya menyadari posisi saya saat ini. Saya sudah sangat jauh dengan dia, sulit mendekatkan diri dengan dia yang seakan ingin terbang menjauh dari saya. Saya sedih dengan keadaan saya yang bahkan tidak bisa mencoba masuk dalam lingkungannya.

Di sini, saya sedih.