Ada dua orang dengan perilaku bertolak belakang hidup dalam satu komunitas yang sama. Sebut saja Si Terbuka dan Si Tertutup.
Si Terbuka adalah seorang yang aktif. Ia sering melontarkan candaan yang khas, unik dan spesifik. Ia hanya bisa mengkritik. Ia melakukan apa yang dikiranya benar, tanpa berpikir matang, bertindak sembrono, evaluasi dengan hati menyesal.
Si Tertutup adalah seorang yang matang. Dia membagi pekerjaannya dengan porsi yang seimbang. Dia melakukan apa yang dirasanya benar, berpikir dengan logika, bertindak dengan rasional, evaluasi dengan masuk akal. Dia terlihat tegas, enggan terlihat bodoh. Tenang adalah pilihan mati baginya.
Si Terbuka dan Si Tertutup memiliki teman masing-masing. Tak ada kesamaan, kecuali satu: berada dalam komunitas yang sama. Si Terbuka berteman dengan Si Manja, Si KerasKepala, Si SuaraEmas, Si Pemalu, Si Ketua, Si Ketawa, Si Lebai, Si Baik, Si Mesum, Si Komitmen, Si Sipit, dan Si Doa. Si Tertutup juga berteman dengan mereka, tapi Si Terbuka merasa belum menjadi teman Si Tertutup. Mendengar cerita Si Manja yang ternyata takut saat berdekatan dengan Si Tertutup, Si Terbuka penasaran dan berusaha membuat Si Tertutup ikut larut dalam komunitas itu.
Si Terbuka memulai aksinya mendekatkan diri dengan Si Tertutup. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Hanya basa-basi tak bermakna yang malah terlontar dari bibirnya. Hasilnya? Hanya jawaban tak berniat yang keluar dari Si Tertutup. Si Terbuka menganggap hal itu normal dilakukan oleh Si Tertutup. Tak masalah.
Di kesempatan selanjutnya, Si Terbuka kembali mencoba akrab dengan Si Tertutup. Terlalu berlebihan, mungkin, sampai-sampai Si Tertutup mulai menganggap setiap gerakan Si Terbuka adalah lelucon, hanya untuk cari perhatian saja. Si Tertutup makin cuek, masa bodoh dengan setiap panggilan dan pendapat Si Terbuka. Baginya Si Terbuka adalah orang yang selalu becanda. Hidup Si Terbuka adalah candaan, gerakannya adalah guyonan, kata-katanya hanyalah permainan. Si Terbuka mulai merasa teracuhkan.
Kesempatan terakhir semakin membuka mata Si Terbuka. Si Tertutup dengan jelas mengekspresikan ketidaksukaannya pada tingkah Si Terbuka. Dia berang, marah, muak dengan setiap perkataan Si Terbuka. Si Terbuka menjadi semakin sungkan untuk mendekati Si Tertutup. Ia merasa rendah diri, tak pantas, dan tak sepadan menjadi teman Si Tertutup. Padahal niat awalnya hanya untuk mendekatkan teman komunitasnya agar menjadi satu. Okey, tak mengapa.
Kini Si Terbuka sudah menyerah berteman dengan Si Tertutup. “Maaf, teman, aku sudah lelah ‘mencoba’ menjadi temanmu”. Layakkah ia menyatakannya?

oni ... dia kan teman 1 pelayananmu,,jadi jngn mneyerah buat berteman dng nya ya.. haha
BalasHapusmarco aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!
BalasHapusDASAR.. jangan di publish!